laut sebagai penyerap atau pelepas karbon..?
Menteri Kelautan dan Perikanan mengklaim bahwa laut dan pantai Indonesia mampu menyerap karbon 66,9 juta ton per tahun dan karbon dioksida 245,6 juta ton per tahun. Namun para ilmuan kelautan dunia masih berdebat soal apakah laut menyerap atau melepas karbon. Sampai saat ini pendapat ilmuan masih terpolarisasi atas tiga kelompok. Pertama, kelompok ilmuan "teoritis" yang mengacu pada teori pertukaran karbon di alam meyakini di dalam lautan hidup fitoplankton yang berfotosintesis sehingga menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Kedua, kelompok ilmuan yang belum bisa memastikan apakah lautan dan sumberdayanya sebagai penyerap atau pelepas karbon. masalahnya semua hasil penelitian memosisikan laut sebagai pelepas karbon (carbon sources) ke atmosfer, kecuali Laut Utara, Atlantik Utara, dan Samudra Bagian Selatan. Ketiga, kelompok ilmuan "ortodoks" meyakini teori pertukaran karbon di alam dan khawatir ancaman perubahan iklim global. Bisa direkayasa bagaimana lautan mampu menyerap karbon. Penelitian ilmiah di Samudra Pasifik Utara, Sub-Artik, Pasifik Khatulistiwa, dan wilayah Samudra bagian Selatan yang memiliki konsentrasi nutrien tinggi, kandungan klorofilnya rendah. Ini membingungkan. Kondisi ini mengindikasikan kegiatan biologis (fotosintesis) rendah. Padahal semua perairan itu mencakup 30% perairan laut global. Muncul tesis : ada faktor pembatas yang mempengaruhi aktivitas biologis fitoplankton, selain nitrat, fosfat, dan silikat. Kesimpulannya jatuh pada besi (Fe). Dilakukan uji coba membenamkan ratusan ton besi di perairan laut selatan agar merangsang pertumbuhan fitoplankton. Hasilnya tejadi peningkatan pertumbuhan fitoplankton, terjadi peningkatan penyerapan karbon dioksida atmosfir di kawasan penyuburan, dan terjadi perubahan "struktur komunitas plankton", yakni sel-sel fitoplankton yang kecil menjadi atom besar yang cepat tenggelam. (info ini dikutip dari koran Kompas 2 Juli 2009)
Last edited by devita_maharani : 07-07-2009 at 02:10 PM.
|