Forum Infojawa  

Go Back   Forum Infojawa > Inisiatif CBFM > Hutan Adat

Reply
 
Thread Tools Display Modes
Old 07-06-2009, 10:20 AM   #1
devita_maharani
Junior Member
 
Contact:
Join Date: Mar 2009
Posts: 5
Default Acara Ritual Upacara Adat di Hutan Wonosadi

Menurut cerita yang turun-menurun dari orang tua pada zaman dahulu, hutan Wonosadi bermula dari terjadinya perang antara Demak dengan Majapahit dan kekuasaan kerajaan pindah ke Demak, salah seorang garwa selir Raja Majapahit yang bernama Rara Resmi dengan kedua puteranya yang bernama Gadhing Mas dan Onggoloco tidak mau tunduk ke Demak tetapi pergi ke Jawa Tengah untuk memenuhi pesan Raja Majapahit yang terakhir Prabu Browijoyo supaya mencari wahyu Kraton dengan jalan bertapa. Sampailah Rara Resmi dengan kedua puteranya itu di Dusun Duren, Beji, Ngawen, Gunungkidul dan bertempat tinggal disitu berbaur dengan masyarakat di Duren. Untuk memenuhi maksud dan tujuannya ke Jawa Tengah dan memenuhi pesan ayahnya, Gadhing Mas dan Onggoloco mulai bertapa. Gadhing Mas bertapa di Gunung gambar dan Onggoloco bertapa di Hutan Wonosadi. Sampai akhir tuanya kedua putera Majapahit tersebut “mukswa” (mati dengan raganya) di tempat bertapa masing-masing.
Onggoloco sifatnya periang, lucu, sabar, tak pernah marah lagipula tidak senang menyakiti hati orang lain. Karena sifatnya yang baik itu banyak orang sayang dan patuh kepadanya. Maka Onggoloco dianggap sebagai sesepuh dan banyak orang yang berguru menimba ilmu dari Onggoloco baik ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan. Onggoloco bertapa sambil membuat hutan dengan maksud untuk membalas budi baik kepada masyarakat karena baik hatinya. Terjadilah hutan itu sumber mata air yang sangat berguna bagi kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya sampai sekarang. Suburlah tanah disekitar hutan itu sampai menunjang ke daerah lain.
Onggoloco meskipun seorang pertapa tetapi juga seorang seniman, sebab diwaktu senggang Onggoloco membunyikan musik tradisional yaitu Rinding. Menurut para rinding diatas batu yang besar di tengah Hutan Wonosadi suaranya bisa didengar dari dusun sekitarnya. Tidak mengherankan bila seni Rinding itu sampai sekarang masih hidup di Dusun Duren yang dilestarikan sekelompok organisasi seni yang bernama “NGLURI SENI”, yang dipimpin dan diketui oleh Sdr. Sudiyo sudah banyak prestasi yang dicapai dan membantu kegiatan pemerintah setempat, pernah juga sampai tingkat nasional. Hutan ini dinamakan Hutan Wonosadi yang artinya kurang lebih :
Wono : alas, Sadi (sandi) : rahasia.
Apakah yang dirahasiakan sampai sekarang belum ada yang mengetahui. Untuk mengenang dan rasa terimakasih dari masyarakat kepada Onggoloco karena jasa-jasanya yang telah membuat hutan dan bersumber mata air maka setiap setahun sekali diadakan upacara Adat Tradisional yang disebut SADRAN. (Sadranan berarti kiriman)
Upacara Sadranan Wonosadi diadakan setahun sekali sehabis panen padi sawah. Sejak zaman dahulu sampai sekarang upacara tersebut belum pernah lowong setiap tahun pasti dilaksanakan oleh masyarakat se Desa Beji dan dipimpin oleh Kepala Desa Beji dan tokoh adat. Untuk hari pelaksanaannya harus mengambil hari Senin Legi atau Kamis Legi. Itu memang sejak zaman dahulu tidak pernah hari lainnya. Adapun kewajiban setiap Kepala Keluarga Desa Beji harus membuat sesaji dan nasi liwet dengan lauk pauk; sambel gepeng, gudeg, pencok, dan gudhangan. Semua itu diarak ke tengah Hutan Wonosadi bersama dengan arak seni tradisional misal : Reog, Terbang, Rinding. Sampai di tengah hutan diterima juru kunci dan diikrarkan. Setelah itu lalu dibagikan kepada pengunjung. Biasanya meriah dan dikunjungi beribu-ribu orang baik dari Desa Beji maupun dari lain daerah.
Jalan Upacara
- Sebulan sebelum hari pelaksanaan diadakan pembentukan panitia tingkat desa/kelurahan.
- Panitia bekerja persiapan sesuai tugas masing-masing.
- Diadakan sosialisasi/persiapan kepada masyarakat ke pedukuhan oleh panitia dan pemerintah desa.
- Seminggu sebelum hari H membersihkan lingkungan tiap-tiap dusun dan mengatur tempat upacara di Hutan Wonosadi.
- Pada malam hari H diadakan tirakatan di balai Desa dengan Thema “
 Menerima laporan-laporan dari seksi-seksi
 Mengatur tugas untuk esok paginya
 Berdoa bersama semoga dalam pelaksanaan nanti mendapat Ridho dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa, kelancaran, keselamatan dan lain-lain.
Hari pelaksanaan upacara Adat Sadranan Hutan Wonosadi :
- Jam 08.00, pagi semua panitia dan petugas berkumpul di lokasi.
- Jam 09.00, pagi semua sesaji dari tiap-tiap pedukuhan dan desa dikumpulkan disuatu tempat yang sudah ditentukan oleh panitia. Juga semua pengiring yaitu : masyarakat, kesenian untuk mengiring sesaji tersebut ke lokasi Sadranan yaitu ke Bukit Wonosadi.
- Jam 10.00, sesaji diarak oleh masyarakat dan panitia ke Lembah Ngawen (ditengah-tengah) Hutan Wonosadi, diringi dengan seni Reog Terbang dan seni lainnya.
- Jam 11.00, sesaji dikabulkan (diujubkan) oleh pemangku adat. Sesaji dibagi-bagikan kepada semua yang hadir dan yang membutuhkan untuk “Nalap” berkah. Cara membagi dengan adil dan rata. Diteruskan makan bersama, dan dilanjutkan dengan Pentas Seni yang ada di lingkungan Desa Beji hinga selesai pada sore hari.
devita_maharani is offline   Reply With Quote
Reply


Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 04:35 PM.


Copylefted Infojawa.org